Bagaimana bisa aku melihat mu seolah olah kita tidak
ada apa-apa sebelumnya? bagaimana aku bisa melupakan "kita" yang tak
pernah bisa bersama? aku, terus dihantui pertanyaan-pertanyaan yang membuatku
semakin sulit untuk melupakanmu. Sikapmu membuatku bingung. Terkadang seperti
ingin terus bersama. Namun juga terkadang enggan untuk bersama. Hubungan ini
tergantung tanpa kepastian. Bodohnya, aku masih setia menunggu. Berharap kamu
datang kepadaku dan memeluk ku dengan erat. Kamu datang dengan membawa satu
kepastian bahwa, kita bisa bersama. Angan-angan ku berpikir seperti itu.
Nyatanya, kamu tidak datang. Kamu tidak pernah datang dan pergi tanpa
menjelaskan, kita ini apa. Kamu pergi tanpa memperdulikan diriku. Aku,
seseorang yang selalu berada di samping mu, seseorang yang menerima mu apa
adanya, seseorang yang bisa mencintaimu seumur hidupnya. Tanpa kamu sadari,
kamu masuk terlalu jauh dalam hidupku. Aku sedang mengalami kekosongan, sama
seperti dirimu. Kita saling mengisi kekosongan. Permulaan yang sesuai harapan.
Tapi tidak dengan akhirnya. Sekarang aku hanya bisa menerima, bahwa memang
bukan takdirnya untuk bersama. Namun, aku dilema, ingin melepasmu atau malah
menggenggam mu semakin erat. Perasaanku boleh bohong, tapi tatapan mataku
ke kamu itu yang tak akan pernah bohong. Aku tidak ingin menatapmu dengan
perasaan ingin terus kembali. Kembali pada hari dimana semuanya baik-baik
saja. Aku dan kamu masih saling membuat cerita. Saling tertawa, berjalan
bersama, bermain bersama. Hampir semua kegiatan kita lakukan bersama. Hari-hari
ku terisi penuh dengan dirimu. Ada banyak hal yang bisa membuat ku selalu ingat
akan dirimu. Barang, lagu, tempat, dan segala hal yang berhubungan tentangmu.
Cukup jelas bukan, kita memang sempat ingin bersama. Aku ingin kembali pada
hari dimana kita masih bersama-sama, tanpa sebuah ikatan. Tetapi aku
sadar. Semakin aku mengejar, kamu semakin enggan untuk mendekat. Aku
terus mengejar sesuatu yang memang bukan untukku. Sakit? tentu. Aku hanya jatuh
pada harapan ku sendiri. Harapan yang selalu ku nantikan. Harapan yang
begitu indah, berharap kamu dapat mencintaiku lebih lama. Namun sayang, aku
hanya diberi waktu yang cukup singkat denganmu. Aku tidak menyangka, kisah
bahagia begitu cepat tercipta. Begitu pula dengan kenangannya. Entah mengapa,
aku dan kamu benar-benar ingin membuat kisah yang bahagia dan sangat berkesan.
Banyak hal yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Sikapmu membuatku
tersipu, sifatmu membuatku kagum, senyum mu membuatku merasa bahwa kamu adalah
duniaku. Kamu adalah orang pertama yang dapat membuatku lupa akan segalanya. Semua
afeksi yang kamu berikan, tidak pernah ku dapatkan dan tidak pernah ku temukan
di orang lain. Kamu, satu-satunya manusia yang membuatku takjub. Kamu indah.
Meski tidak ada ikatan, kamu terus berusaha untuk membuat semua keadaan menjadi
sangat bahagia. Kamu banyak meluangkan waktu mu untuk diriku. Setiap untaian
katamu membuatku tenang. Sikapmu yang dapat membuatku diam mematung. Parasmu
membuatku merasa sedang menatap dunia dan se isinya. Mata mu yang menyipit
ketika tertawa. Bibir merahmu yang manis seperti gula yang tidak berhenti mengutarakan
celotehmu. Setiap untaian kata yang kamu ucapkan, aku akan selalu dan terus
terpikat. Kamu berikan aku rasa, seolah-olah aku adalah dunia mu. Warna cinta
yang kamu berikan membuat ku menjadi sangat terpikat akan dirimu. Bagaikan kain
sutra, tangan mu melembutkan semua sikap. Tatapan matamu yang indah membuat ku
terpukau. Kamu menyebut ku sebagai “Perempuan Gila”. Bagaimana bisa aku tidak
tergila-gila karena mu?. Siapa yang tidak ingin memiliki manusia se indah
dirimu?. Siapa yang tidak tersipu dengan sikapmu?. Aku perempuan gila yang
selalu mencintaimu. Setiap langkah perempuan gila ini, selalu teringat akan
dirimu. Perempuan gila yang terus memperjuangkan asa nya. Aku menerima semuanya
dengan tulus tanpa menyadari bahwa aku terlalu jatuh. Aku berakhir jatuh
bersama dengan sejuta kenangan dan harapan. Kamu terlalu indah untuk ku miliki.
Tapi aku senang karena kita sempat berbagi cerita indah dan membuat cerita.Kamu
terlalu indah untuk ku pandang sebagai dunia ku. Kita memang hanya ditakdirkan
untuk saling bertukar cerita, bukan untuk selalu bersama di cerita ini. Ini
semua hanya kiasan belaka. Tapi dibalik fana nya erita ini, aku bersyukur bisa dipertemukan
dengan orang sebaik dirimu. Dan kamu, membuat semuanya abadi. Kamu
abadi didalam rasa ini. Kamu abadi dibuku ini. Aku pun tidak pernah penat
untuk terus membaca buku ini kembali. Aku suka buku ini. Buku yang kenangannya
tersusun rapi, dengan alur cerita yang seperti dari awal sudah terjanjikan sama
seperti apa yang tertuang dalam buku ini. Buku yang berisi kenangan indah
bersamamu. Di buku ini banyak kisah yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya.
Kisah yang begitu indah dan aku terlena dan buku ini abadi dalam waktu. Walau
berakhir abu-abu setidaknya sempat bersama. Meski banyak yang mempertanyakan,
sebenarnya apa yang kita mau? Pada akhirnya kamu memilih untuk tidak
bersamaku. Bahagia mu yang sebenarnya bukan berada pada ku dan aku turut bahagia
karena kamu sudah menemukan apa yang kamu sebut sebagai dunia mu. Walaupun
tidak denganmu, akan ku pastikan namamu tetap menjadi tokoh abadi dalam
kisah ini. Darimu aku belajar, tidak semua hal yang kita inginkan atau
kita impikan tidak harus memaksakan hasilnya. Kamu juga mengajarkan arti kata
“Ikhlas”. Kamu, ikhlasku paling serius yang sebelumnya ku sebut kau dengan
“Amin Paling Serius”. Terimakasih telah membuat semuanya terasa sangat bahagia
sebelumnya. Bahagia ku sempat sepenuhnya ku berikan kepada mu. Salah ku,
terlalu memaksakan kita untuk terjadi. Sekarang biarkan rasa ini hilang
dengan seiring berjalannya waktu. Ikhlas ku akan lebih sulit, tidak semudah
saat aku mengenal mu. Ikhlas ku akan lebih serius, tidak semudah ketika menaruh
perasaan padamu. Ikhlas yang harus sedikit ku paksakan, agar kita cepat hilang
dari benak ku. Setidaknya aku pernah menemani mu kan? Walau berujung harus
melepaskan tapi aku senang sempat mengisi kekosongan dalam dirimu dan biarkan
rasa ini hilang termakan oleh waktu. Namun nyatanya ikhlas itu bohong. Aku
hanya terbiasa tanpa dirimu, bukan melupakan mu. Biarkan aku membuat kisah
ini menjadi abadi. Abadi dalam setiap dekapan ku. Abadi dalam setiap perjalanan
hidup ku. Kisah kita yang terpaksa usai. Kisah yang harus ku ikhlaskan. Kisah
ini berakhir disini. Selamat melanjutkan perjalanan mu, dan selamat
melegenda di hatiku.

Komentar
Posting Komentar